SEKILAS INFO
  • 4 bulan yang lalu / Selamat Datang Di Website Resmi PC LDII Cilincing Jakarta Utara
WAKTU :

Sebuah Taman Bernama Keluarga

Terbit 9 August 2021 | Oleh : admin | Kategori : Islam
Sebuah Taman Bernama Keluarga

Oleh: Faizunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan.

Ada satu pertanyaan sederhana, menyikapi dinamika kehidupan yang terus bergerak dan bergolak. Pertanyaannya; dimanakah tempat berteduh yang sejuk? Tidak seperti ketika hujan turun, banyak orang lari berteduh ke warung, masuk gedung, di bawah jembatan layang, atau tempat lain yang bisa menghindarkan dari tetesan air hujan. Atau saat cuaca panas menyapa, lari ke tempat ber-AC, memakai payung atau dengan tangan kosong. Di zaman ini, tempat berteduh yang paling sejuk adalah di keluarga. Tanpa bermaksud meremehkan lembaga sosial lain, di keluargalah kita saling mengenal secara mendalam. Lebih-lebih hubungan anak dengan orang tua, ia tidak bisa dipisahkan. Untuk itu, lebih awal belajar merawat keluarga, akan lebih baik. Dan ini bisa terjadi kalau seseorang merawat keluarganya seperti layaknya merawat taman.

{وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ إِذَا أَنْتُمْ بَشَرٌ تَنْتَشِرُونَ (20) وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (21) }

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Q.S. Ar-Rum: 20 – 21)

Seperti apakah taman keluarga yang indah dan sejuk? Ia bukanlah taman bunga plastik, yang begitu ditanam langsung berbunga indah selama-lamanya dan berwarna-warni. Tidak perlu disiram, tidak perlu dipupuk. Cuma sekali tanam. Tidak. Keluarga lebih menyerupai taman alami. Semua pihak sedang dan harus bekerja sama untuk bertumbuh. Dan taman keluarga akan bertumbuh indah kalau kita rajin saling menyirami. Belajar peka pada ciri-ciri unik orang lain, sering menyebarkan pupuk kesabaran dan memaafkan, kemudian menyiramkan air suci pengertian kepada anggota keluarga. Pengertian adalah akar semua cinta yang mendalam.

Pertama, taman indah karena berisi berbagai bunga warna kepribadian yang berbeda-beda. Ada yang lemah, perlu dibantu. Ada yang belum bisa, untuk diajari. Kedua, taman indah kalau rajin disirami dengan air sejuk saling memaafkan dan saling menerima. Mengalah secara bergantian, rebutan mengalah, sebagai pupuk-pupuk kejiwaan yang sangat menyehatkan. Saling menghormati dan mengigatkan. Ketiga, bila dirawat terus maka taman menghadiahkan keindahan-keindahan. Setelah perbedaan diterima, rajin saling menyirami, maka baru keluarga bisa jadi taman sejuk yang indah. Keluarga hanya bisa disempurnakan dengan cara terus-menerus mencintai.

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (14) إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ (15) فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لأنْفُسِكُمْ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (16) }

Hai orang-orang mukmin, Sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); di sisi Allah-lah pahala yang besar. Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS At-Taghabun:14 – 16)

Tidak saja di sekolah manusia belajar, di keluarga manusia juga belajar. Bahkan belajar dalam kadar yang jauh lebih dalam. Kalau di sekolah ujungnya hanya beberapa tahun, di keluarga ujungnya jauh sekali. Itu sebabnya, siapa saja yang berhasil merawat keluarganya dalam waktu lama biasanya diberkati memiliki jiwa yang bercahaya. Itu sebabnya, ada yang menyebutkan keluarga sebagai sekolah kasih sayang (school of compassion). Di keluargalah seseorang bertumbuh dengan cara saling mendekap dan memaafkan. Uniknya, bila di dunia dagang yang menerima yang lebih kaya, sementara di keluarga yang memberilah yang jiwanya lebih kaya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏”‏ لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ ‏”‏ ‏.‏ أَوْ قَالَ ‏”‏ غَيْرَهُ ‏”‏ ‏.‏

Dari Abi Hurairah dia berkata, bersabda Rasulullah ﷺ; “Janganlah seorang mukmin membenci wanita mukminah. Jika dia membenci salah satu perangainya, niscaya dia akan ridha dengan perangainya yang lain.” (HR Muslim)

Keluarga juga ladang pertumbuhan spiritual. Mari gunakan apa-apa yang ada sebagai lahan-lahan pertumbuhan. Suami yang pemarah adalah guru kesabaran. Istri yang cerewet adalah amplas yang menghaluskan. Anak-anak yang bermasalah adalah kesempatan untuk membayar utang-utang kebaikan. Terus berbuat baik. Dengan cara seperti ini, semuanya menjadi jalan pulang, kembali ke kebenaran.

‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,

كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ

“Rasulullah ﷺ dalam kesibukan membantu istrinya, dan jika tiba waktu sholat maka beliaupun pergi shalat.” (HR Bukhari).

Apakah setelah menikah puluhan tahun kemudian pasangan pernikahan hanya akur, damai, senyum-senyum saja? Pernikahan yang mulus tanpa halangan itu tidak ada. Semua pernikahan ditandai godaan dan cobaan di sana-sini. Dan cobaan ada tidak untuk membuat pernikahan roboh, melainkan untuk membuat jiwa semakin dewasa dari hari ke hari. Mirip dengan apa yang dilakukan matahari panas pada bunga. Hawa panas matahari malah membuat bunga jadi mekar. Dengan cara yang sama, cobaan-cobaan yang datang – asal tekun, tulus, ikhlas – suatu hari akan membuat jiwa jadi mekar. Pernikahan bukan kulkas yang hawanya selalu dingin, melainkan taman jiwa yang terus-menerus butuh dirawat dan dijaga.

عن عروة قال قُلْتُ لِعَائِشَةَ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِيْنَ أي شَيْءٌ كَانَ يَصْنَعُ رَسُوْلُ اللهِ  صلى الله عليه وسلم  إِذَا كَانَ عِنْدَكِ قَالَتْ مَا يَفْعَلُ أَحَدُكُمْ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ يَخْصِفُ نَعْلَهُ وَيُخِيْطُ ثَوْبَهُ وَيَرْفَعُ دَلْوَهُ

Dari Urwah, ia berkata kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan oleh Rasulullah ﷺ jika ia bersamamu?”, Aisyah berkata, “Ia melakukan (seperti) apa yang dilakukan oleh salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya, ia memperbaiki sendalnya, menjahit bajunya, dan mengangkat air di ember.” (HR Ibnu Hibban)

Cara tiap jiwa bertumbuh itu unik-unik, tidak bisa dibandingkan. Cara jiwa memilih jalan berkembang, tidak bisa disandingkan. Namun, asal masih dalam koridor taman kebahagiaan masih perlu dijaga dan dirawat dengan sebaik-baiknya. Ada hak dan kewajiban di sana. Dan tiap sahabat yang sudah menikah lebih dari seperempat abad mengerti, tidak selalu pertumbuhan jiwa kita sejalan dengan pasangan. Kadang terjadi tabrakan, singgungan, yang bisa membuat keluarga runtuh. Dan di sana kedalaman cinta seseorang diuji. Seberapa kuat dan kokoh keluarga itu berdiri. Bagi jiwa-jiwa yang indah, inilah pesan rahasianya: “Melihat orang yang kita cintai tumbuh sesuai dengan panggilan alaminya, lebih penting dari ego kita agar disebut baik, sukses, suci, santun atau apa saja yang menunjukkan hebat.” Itulah kunci taman yang indah. Sebuah taman bernama keluarga.

sumber : https://ldii.or.id/sebuah-taman-bernama-keluarga/

SebelumnyaSumber Pertengkaran SesudahnyaMinta Sabar

Tausiyah Lainnya

25 October 2021

Memuliakan IBU

4 October 2021

Minta Sabar