SEKILAS INFO
  • 5 bulan yang lalu / — Selamat Datang Di Website Resmi PC LDII Cilincing, Jakarta Utara —
WAKTU :

BEBERAPA HAL YANG PERLU DI PERHATIKAN DI BULAN ROMADHON

Terbit 29 April 2020 | Oleh : mohammad Sulthon | Kategori : KEMANDIRIAN / NASEHAT
BEBERAPA HAL YANG PERLU DI PERHATIKAN DI BULAN ROMADHON

Dibulan Romadhon ini perlu kita perhatikan beberapa hal yang menjadi larangan atau hal yang menyebabkan puasa kita menjadi batal.

  1. Jangan Sampai Kobongan (Jimak Istri Setelah Waktu Sahur Habis / Disiang Hari Romadhon. kalau sampai terjadi kobongan maka walaupun hukum puasanya batal pada hari itu dia tetap wajib meneruskan puasanya sampai maghrib dan harus membayar kafaroh :
    – Memerdekakan seorang budak mukminah
    – Berpuasa selama dua bulan berturut-turut
    – Memberi makan kepada 60 orang miskin, satu orang miskin sama dengan Rp.30.000 jadi jika dikali dengan 60 sama dengan Rp.1.800.000

    Catatan
    Bila kobongan dalam satu bulan lebih dari satu kali maka dikalikan saja , berapa kobongan alam satu bulan terus dikalikan dengan kafaroh yang telah di tetapkan.

  2. Kemurahan / Rukhsoh bagi yang tidak berpuasa romadhon :
    – Orang tua yang tidak mampu atau tidak kuat puasa (umur 60 Tahun keatas) dan tidak kuat membayar puasa di hari yang lain maka dia wajib memberi makan satu orang miskin seharga Rp.30.000. bagi orang tua yang umur tahun keatas dan kuat berpuasa maka wajib puasa.

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَابْنُ نُمَيْرٍ كُلُّهُمْ عَنْ ابْنِ عُيَيْنَةَ قَالَ يَحْيَى أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ هَلَكْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَمَا أَهْلَكَكَ قَالَ وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِي فِي رَمَضَانَ قَالَ هَلْ تَجِدُ مَا تُعْتِقُ رَقَبَةً قَالَ لَا قَالَ فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ قَالَ لَا قَالَ فَهَلْ تَجِدُ مَا تُطْعِمُ سِتِّينَ مِسْكِينًا قَالَ لَا قَالَ ثُمَّ جَلَسَ فَأُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقٍ فِيهِ تَمْرٌ فَقَالَ تَصَدَّقْ بِهَذَا قَالَ أَفْقَرَ مِنَّا فَمَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا أَهْلُ بَيْتٍ أَحْوَجُ إِلَيْهِ مِنَّا فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ ثُمَّ قَالَ اذْهَبْ فَأَطْعِمْهُ أَهْلَكَ
رواه مسلم

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya dan Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Zuhair bin Harb dan Ibnu Numair semuanya dari Ibnu Uyainah – Yahya berkata- telah mengabarkan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari Az Zuhri dari Humaid bin Abdurrahman dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, ia berkata; Seorang laki-laki datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Celaka diriku wahai Rasulullah.” Beliau bertanya: “Apa yang telah mencelakakanmu?” Laki-laki itu menjawab, “Saya telah menggauli isteriku di siang hari pada bulan Ramadlan.” Beliau bertanya: “Sanggupkah kamu untuk memerdekakan budak?” Ia menjawab, “Tidak.” Beliau bertanya lagi: “Sanggupkan kamu berpuasa dua bulan berturut-turut?” “Tidak.” jawabnya, Beliau bertanya lagi: “Sanggupkah kamu memberi makan kepada enam puluh orang miskin?” Ia menjawab, “Tidak.” Abu Hurairah berkata; Kemudian laki-laki itu pun duduk, sementara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diberi satu keranjang berisi kurma. Maka beliau pun bersabda: “Bersedekahlah dengan kurma ini.” Laki-laki itu pun berkata, “Adakah orang yang lebih fakir dari kami. Karena tidak ada penduduk di sekitar sini yang lebih membutuhkannya daripada kami.” Mendengar ucapan itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa hingga gigi taringnya terlihat. Akhirnya beliau bersabda: “Pulanglah dan berilah makan keluargamu dengannya.”

3. Orang Sakit dan tidak bisa di harapkan kesembuhannya dan tidak kuat berpuasa maka boleh tidak berpuasa tapi harus memberi makan satu orang miskin setiap hari seharga Rp.30.000

4. Wanita hamil dan ibu yang menyusui anaknya hendaknya berpuasa kalau terpaksa tidak mampu berpuasa , maka supaya membayar puasa pada hari yang lain.

5. Orang yang pikun terus atau Gila , walaupun tidak puasa romadhon tidak wajib membayar fidyah karena sudah tidak terkena kewajiban puasa.

TENTANG FIDYAH

{وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ}
.سورة البقرة اية ١٨٤

حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ أَخْبَرَنَا رَوْحٌ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ بْنُ إِسْحَاقَ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ عَنْ عَطَاءٍ سَمِعَ ابْنَ عَبَّاسٍ يَقْرَأُ
ٍ { وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ }
قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لَيْسَتْ بِمَنْسُوخَةٍ هُوَ الشَّيْخُ الْكَبِيرُ وَالْمَرْأَةُ الْكَبِيرَةُ لَا يَسْتَطِيعَانِ أَنْ يَصُومَا فَيُطْعِمَانِ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا
روا البخاری

Telah menceritakan kepadaku Ishaq Telah mengabarkan kepada kami Rauh Telah menceritakan kepada kami Zakaria bin Ishaq Telah menceritakan kepada kami Amru bin Dinar dari Atha dia mendengar Ibnu Abbas membaca ayat; “Dan bagi orang-orang yang mampu berpuasa (namun ia tidak berpuasa) wajib baginya membayar fidya yaitu memberi makan orang miskin, “(QS. Albaqarah 184), Ibnu Abbas berkata; Ayat ini tidak dimanshukh, namun ayat ini hanya untuk orang laki-laki yang sudah sangat tua dan nenek tua, yang tidak mampu berpuasa, maka masing-masing dari keduanya hendaklah mereka memberi makan setiap hari kepada orang miskin.’

وَالْمَرِيْضِ الَّذِي لاَ يُرْجَی بَرْؤُهُ ، وَيُجَهِّدُهُ الصَّوْمَ ، مِثثْلُ الشَّيْخِ الكَبِيْرِ ، وَلاَ فَرْقَ.
( فقه السنة )

dan ayat ini kemurahan bagi orang yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya dan memberatkan padanya berpuasa, hukumnya orang yang sudah sangat tua, tidak ada perbedaan.

٨ – الصوم » ٧٥٨ – من قال هي مثبتة للشيخ والحبلى

Pendapat yang mengatakan “Itu berlaku bagi orang yang sudah tua atau wanita yang sedang hamil

حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ عَنْ سَعِيدٍ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ عَزْرَةَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ { وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ } قَالَ كَانَتْ رُخْصَةً لِلشَّيْخِ الْكَبِيرِ وَالْمَرْأَةِ الْكَبِيرَةِ وَهُمَا يُطِيقَانِ الصِّيَامَ أَنْ يُفْطِرَا وَيُطْعِمَا مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا وَالْحُبْلَى وَالْمُرْضِعُ إِذَا خَافَتَا قَالَ أَبُو دَاوُد يَعْنِي عَلَى أَوْلَادِهِمَا أَفْطَرَتَا وَأَطْعَمَتَا
رواه ابودلود

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Al Mutsanna, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Adi dari Sa’id dari Qatadah, dari ‘Azrah dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas:

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِين

“Dan bagi orang-orang yang mampu berpuasa (namun ia tidak berpuasa) wajib baginya membayar fidya yaitu memberi makan orang miskin, “

ia berkata :
ayat ini rukhshoh/keringanan bagi laki-laki dan wanita yang sangat tua, dan keduanya menguat-nguatkan puasa, bahwasanya keduanya boleh tidak puasa dan masing-masing (mengganti) memberi makan setiap hari satu orang miskin, dan demikian pula kemurahan bagi perempuan yang hamil dan perempuan yang menyusui anaknya apabila kedua merasa khawatir. Abu Daud berkata; yaitu khawatir atas keselamatan anaknya, maka keduanya boleh tidak berpuasa dan (mengganti memberi makan).

وَقَالَ الْحَسَنُ وَ اِبْرَاهِيْمُ فِيْ الْمُرْضِعِ اَوِ الْحَافَتَا عَلیَ اَنْفُسِهِمَا اَوْ وَلدِهِمَا تُفْطِرَانِ ثُمَّ تَقْضِيَانِ ، وَاَمَّا الشَيْخُ الْكَبِيْرُ اِذَا لَمْ يُطِقِ الصِّيَامِ (فَإنَّّهُ يُفْطِرُ وَتَجِبُ عَلَيْهِ الْفِدْيَةُ دُوْنَ القَضَاءَ)
فَقَدْ اَطْعَمَ اَنَسٌ بَعْدَ مَا كَبِرَ عَامَا اَوْعَامَيْنِ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِيْنَاً خُبْزًا وَلَحْمّا وَاَفْطَرَ .
رواه البخاری

Artinya : Hasan dan Ibrohim berlata : perempuan yang menyusui atau hamil yang menghawatirkan dirinya atau anaknya, maka boleh tidak berpuasa kemudian bayar hutang puasa,
adapun orang yang sangat tua ketika tidak kuat berpuasa (maka boleh tidak berpuasa dan wajib membayar fidiyah , tidak mebayar puasa)
ketika Anas telah sangat tua, dia memberi makan atau fidiyah berupa roti dan daging pada satu orang miskin setiap hari kemudian tidak berpuasa, dalam setahun atau dua tahun (sebelum meninggal / setelah umurnya lebih dari 90 tahun)

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

Dr dalil di atas, segala sesuatu yg termasuk makanan dan minuman sehingga bs mengenyangkan perut walaupun masuknya tidak melalui mulut, hukumnya membatalkan puasa seperti memasukkan cairan yg mengandung zat – zat makanan (sebagai pengganti makanan dan minuman) melalui suntikan atau infus

Hal-hal yg tidak membatalkan puasa :

1. Suntikan cairan obat, (cth obat tetes mata, analgesik) atau suntikan cairan yg bukan pengganti makanan dan minuman spti vaksi, suntikan insulin.
2. Mengoleskan minyak angin, menghirup inhaler, freshcare dan sejenisnya
3. Obat tetes mata
4. Obat semprot asma
5. Transfusi darah.

Semoga Amal Ibadah Kita Di Bulan Suci Romadhon Ini Allah Berikan Pengampunan Dan Rohmatnya. Amiiiiiin

SebelumnyaDAFTAR LINK CEK PENYEBARAN CORONA VIRUS SesudahnyaSukses di Bulan Romadhon Dengan Bertadarus

Berita Lainnya

0 Komentar

Silahkan masuk untuk bisa menulis komentar.